Kamis, 13 Maret 2014

Cewek Tipe Pisang Goreng dan Cewek Tipe Lapis Legit

untuk memperkuat bahasan ada pada buku Yuk Berhijab! karya Ustadz Felix dan Mbak Benefiko.

 

Pernah denger cerita Pisang Goreng VS Lapis Legit? Kalau belum, nih saya ceritain. Jadi, cewek itu cuman ada 2 tipe. Satu, cewek tipe pisang goreng. Dua, cewek tipe lapis legit. Bedanya? Mari kita simak. 
1. Cewek Tipe Pisang Goreng
pisang-goreng-pinggir-jalan-abang-cewek-tipe
Pedagang Pisang Goreng
Anda pasti sudah tahu bentuk pisang goreng itu seperti itu apa kan? Dan Anda pun pasti tahu, bahwa semua orang bisa membuat pisang goreng. Mudah step-stepnya. Lantaran, harga bahan bakunya murah, serta harga jualnya pun murah. Paling harganya 500 rupiah. Kalau ambil banyak, dapat diskon lagi. 
Anda tahu tempat jual pisang goreng itu dimana? Yah, di pasar, dan kerapnya di pinggir jalan. Seingat Anda, yang biasa beli pisang goreng itu siapa? Naaah, abang-abang! Hehehe! Abang-abang yang beli! Mahasiswa yang nggak punya duit, anak kosan yang kere, dan lain-lain yang beli. Karena harganya murah. Hehehe! 
Cara belinya? Pisang gorengnya disebar di nampan. Siapapun boleh datang ke situ. Menurut testimoni para pembeli pisang goreng, ketika mereka ditanya lebih suka beli pisang goreng yang masih HOT atau yang sudah dingin? Mereka serentak menjawab, "Yang masih HOOOT~~!!" Ketika ditanya cari yang masih matang atau yang udah mentah? Mereka serentak menjawab, "Yang masih MATAAANG!!" Ketika ditanya, cara bedainnya gimana? PEGANG-PEGAAANG~ Yang dipegang 11, yang dibeli cuman 1! Hehehe! Itulah nasib pisang goreng. 
2. Cewek Tipe Lapis Legit
Lapis Legit Rainbow
Lapis Legit Rainbow
Pernah makan lapis legit? Kebetulan saya hobi makan lapis legit. Lantaran Mama saya dari dulu sampai sekarang memang hobi membuat kue, termasuk lapis legit. Dan ternyata banyak juga saudara-saudara yang berguru tentang cara membuat beberapa kue, kepada Mama saya. Karena katanya tidak semua orang bisa membuat lapis legit. Hanya orang-orang terpilih saja. Hehehe! 
Pun, ternyata harga bahan-bahan untuk membuatnya juga mahal. Tutorial membuatnya pun susah. Susah minta ampun! Sempat juga saya membantu Mama saya membuatnya. Meski pun udah pake mixer, tetap aja durasi pembuatannya lama. Sekitar 100 menit! 
Kalau udah jadi adonannya, taruh ke loyang. Terus, panasin dulu. Oh iya, jangan lupa oleskan mentega di atasnya, biar nggak lengket nanti. Keluarin loyangnya, lalu masukkan satu lapis. Tapi ingat, jangan terlalu tipis dan jangan terlalu tebal. Kalau terlalu tipis, nanti pecah. Kalau terlalu tebal, nanti jadinya bantat. Kalau sudah, silahkan masukkan ke oven. 
Sudah 5 menit, bunyi bell, TING! Keluarkan dari oven, kemudian masukkan 1 lapis lagi. Kalau sudah, masukkan ke oven lagi. Tunggu 5 menit, hingga bunyi bell, TING! Keluarkan dari oven, kemudian masukkan 1 lapis lagi. Tunggu 5 menit, bunyi bell, TING! Wah, ternyata gosong! Tarik yang gosong. Tapi hati-hati. Buang. Terus, masukkan yang baru lagi. Tunggu 5 menit, bunyi bell, TING! Keluarin lagi. Dan seterusnya, masih banyak banyak lagi step-stepnya! 
Panasnya minta ampun. Sebab, kita kebanyaan deket-deket dengan oven. Yah, pokoknya susahnya minta ampiun. Tapi alhamdulillah, setelah semua lapis sudah kita taruh, jadilah lapis legitnya. Dan kerennya, lapis legitnya dijual dengan harga yang mahal. Minimal, 75 ribu. Pernah pula di Batam kemarin ada yang menjual harganya 800 ribu. 800 ribu itu satu loyang doang loh.

Yang versi premium 1 juta per loyang pun ada juga. Soalnya kan sekarang bentuk lapis legit udah makin bervariasi, sampai ada yang kayak Rainbow Cake. Nah, karena mahal, dijualnya pun di Bakery. Eaaak. Tempatnya dingiiin, bersiiih, enaaak, nyamaaan, berAC, dan empuuuk. Wuuuu!! 
Dan yang paling asyik, tahu nggak Anda, siapa yang biasa beli lapis legit? Yang jelas bukan abang-abang! Hehehe! Yang beli, pengusahaaa, dokteeer, insinyuuur, direktuuuur, motivatooorr, buleee, artiiiss, ustaaadz, orang-orang pentiiing, orang-orang terkenaaal, orang-orang berpengaruuuh, orang-orang bermanfaat, dan pokoknya yang hebat-hebat yang beli. Hehehe! Termasuk si Dani juga beli. Aamiin. Hehehe! XD
Cara belinya? Masuk ke Bakery, lihat-lihat penampilan lapis legitnya di etalase. Cakep-cakep euy. Udah dijamin berkualitas tinggi dari pabriknya. Bayar ke kasir dengan cara yang keren. Packagenya bergengsi lagi. Ckckck, saya harus kita harus bilang WOW gitu! Hehehe!

Apa Kesimpulannya?
Ngomong-ngomong, bagi Anda yang laki-laki, kira-kira rencananya nanti pingin nikahin cewek tipe pisang goreng atau lapis legit nih? Lapit legit? Nice choice! Hehehe! 
So, cewek tipe pisang goreng itu ibarat cewek yang nggak menghijabkan auratnya, dan tak membatasi pergaulannya dengan non-murhim. Menurut dia, kecantikan tubuhnya adalah konsumsi publik. Semua boleh megang-megang. Semua boleh melirik-lirik tonjolan dadanya. Semua boleh melirik-lirik lekuk bokongnya, lekuk pahanya, bonus lekuk betisnya. Kemulusan kulitnya boleh dipegang siapa ajah. GRATIS. Kalau udah lama-lama megang, bonus boleh cium bibir. 
Kalau udah "belanja" kecantikan cewek tipe pisang goreng sampai angka tertentu, Anda berhak tidur bareng dengan dia. Dengan modal yang cukup sederhana, yaitu, cukup dengan mengubah model rambut Anda mirip dengan suatu artis, lalu tembak dia, "Mau nggak jadi pacar aku?" hanya dengan modal semurah itu, bisa dapat deh seks darinya. Itulah nasib cewek tipe pisang goreng. 
Dirinya ditembak oleh laki-laki yang udah pernah 10 kali menghamili anak orang. Dan dia adalah korban ke-11. Selamat! Dapat piring cantik! Hehehe! Sudah dihamili, cowoknya kabur. Cieee Romeo and Juliet nieee. Hehehe! 

7 Kejaiban Petaka: Wanita

Drama Korea dan novel cinta ngajarin pacaran, tapi kok mereka nggak sampai hamil di luar nikah ya? Ini kok bisa hamil ya?  Yaiyalah, orang itu kisah fiksi, hidup kita kan kisah nyata. Ah, nyesel deh niru-niru budaya barat yang memang dari berabad-abad yang lalu kerjaannya begitu! Hehehe! 
Kalau tipe lapis legit, nggak boleh asal disentuh-sentuh. Hus! Harus bawa mahar dulu. Harus dinikahin dulu. Kalau udah, harus dinafkahi. Kalau udah nikah, nanti di malam pertama, sang cewek tipe lapis legit berkata, "Suamiku yang kurindu, yang sangat kucintai, aku menjaga kecantikan diriku dari dulu sampai sekarang, untuk hari ini. Aku hanya mempersembahkan kecantikan diriku pada cinta sejatiku kelak.  Yaitu, dirimu, sayang.  Dari dulu tak ada laki-laki manapun yang menyentuh kecantikanku. Karena aku hanya akan memberikan kecantikan spesial ini kepada lelaki spesial yang dapat diajak berkomitmen, seperti kamu. Kini engkau dapat menikmati kecantikanku secara sempurna. Emmuuaach~ 


So sweet kan?  So sweet dong. Itulah takdirnya cewek tipe lapis legit. Romantisme di sinetron aja kalah. Yaiyalah, orang itu kisah fiksi, hidup kita kan kisah nyata. Ah, nyesel deh niru-niru budaya barat yang memang dari berabad-abad yang lalu kerjaannya begitu!  Hehehe!

Nah, kalau tadi saya bertanya kepada laki-laki, sekarang saya mau nanya ke yang perempuan. Kira-kira, rencananya sekarang ini Anda pingin jadi cewek tipe pisang goreng atau tipe lapis legit?

 Sumber : www.danisiregar.com, 10 Juli 2013
-

Udah Putusin Aja

 "Udah Putusin Aja" karya Ustadz Felix Y. Siauw Part 1

1. pacaran itu menjalin silaturahim | "silaturahim itu hubungan ke kerabat, bukan pacaran" #UdahPutusinAja
2. pacaran itu bikin semangat belajar | "semangat belajar maksiat?" #UdahPutusinAja
3. pacaran itu buat dia bahagia, itu kan amal shalih | "ngarang, btw, telah bahagiakan ibumu? ayahmu?" #UdahPutusinAja
4. pacaran itu sekedar penjajakan kok | "serius nih penjajakan? ketemu ibu-bapaknya berani?" #UdahPutusinAja
5. kasian kalo diputusin | "justru tetep pacaran kasian, dia dan kamu tetep kumpulin dosa kan?" #UdahPutusinAja
6. kasian dia diputusin, aku sayang dia | "putusin itu tanda sayang, kamu minta dia untuk taat sama Tuhannya, betul?" #UdahPutusinAja
7. putus itu memutuskan silaturahim | "silaturahim itu kekerabatan, sejak kapan dia kerabatmu?" #UdahPutusinAja
8. nggak tega putusin.. | "berarti kamu tega dia ke neraka karena maksiat? apa itu namanya sayang?" #UdahPutusinAja
9. aku nggak zina kok, nggak pegang2an, nggak telpon2an, kan nggak papa? | "nah bagus itu, berarti gak papa juga kalo putus" #UdahPutusinAja
10. aku pacaran untuk berdakwah padanya kok | "ngarang lagi, dakwahmu belum tentu sampai, maksiatmu pasti" #UdahPutusinAja
11. nanti putusin dia gw gak ada yg nikahin gimana? | "pacaran tak jaminan, realitasnya banyak yg nggak nikah sama pacarnya" #UdahPutusinAja
12. berat mutusin | "semakin berat engkau tinggalkan maksiat untuk taat, Allah akan beratkan pahalamu :)" #UdahPutusinAja
13. nanti aku dibilang nggak laku gimana? | "bukan dia yang punya surga dan neraka, abaikan saja" #UdahPutusinAja
14. kalo aku putusin dia, dia ancam bunuh diri | "belum apa2 pake anceman psikologis, dah nikah dia bakal ancem bunuh kamu!" #UdahPutusinAja
15. dia masi ada utang ke aku, berat mutusinnya | "hehe.. kamu ini rentenir ya? kl terusan hutangnya malah nambah" #UdahPutusinAja
16. pacaran itu makan waktu, makan duit, makan hati | mending waktu, duit dan hati diinvestasikan ke Islam, #UdahPutusinAja
17. pacaran memang tak selalu berakhir zina, tapi hampir semua zina diawali dengan pacaran, #UdahPutusinAja
18. pacaran itu disuruh mengingat manusia, bukan mengingat Allah | melisankan manusia bukan Allah, #UdahPutusinAja
19. pacaran itu bikin ribet, dikit2 bales sms, dikit2 telpon, dikit-dikit minta dikirim pulsa (wah, sms mamah baru nih) #UdahPutusinAja
20. pacaran itu dikit-dikit galau, dikit-dikit galau, galau kok dikit-dikit? hehe.. #UdahPutusinAja
21. lelaki, coba pikir, senangkah bila engkau menikah lalu ketahui bahwa istrimu mantan ke-7 laki-laki berbeda? #UdahPutusinAja
22. wanita, coba pikir, inginkah berkata pada suamimu pasca akad kelak "aku menjaga diriku utuh untukmu, untuk hari ini :)" #UdahPutusinAja

Rabu, 12 Maret 2014

Guru Alif, Ba, Ta-Ku


 
Guruku...ini caraku untuk mengenang kepergianmu. Tulisan ini menjadi bukti bahwa engkau pernah hadir di dunia ini, dan membantuku untuk mengenal Alif, Ba, Ta...dan kini, Aku mendapatkan sinergi positif dari Alif, Ba, Ta tersebut.
Ketika itu Aku masih berusia 6 tahun. Ibu sangat antusias mecarikan seorang guru ngaji yang mahir menbaca Alquran. Bukan Ibu tak bisa membaca Alquran, hanya saja Ibu  menginginkan Aku di ajar oleh seorang yang kompeten dalam membaca Alquran...dan Ibu merasa bahwa Aku membutuhkan seorang guru ngaji yang bisa membinaku untuk membaca kalam Allah itu. Saat itu Aku tak tertarik untuk belajar mengaji apalagi guru mengajinya adalah tetanggaku, dan tak ada teman seusiaku disana. Terbayang dibenakku betapa tegangnya suasana mengaji untuk tahap pemula seperti Ku.  Dengan segenap upaya Ibu membujukku agar Aku mau mengaji, namun Aku tetap menggelengkan kepala sebagai petanda bahwa Aku tak ingin mengaji. Ibu tak patah arang, Ia tetap membujukku dengan kelembutan dan memberikanku pengertian yang membuatku menganggukan kepala untuk mengatakan “Ya, Bu”. Aku menerima perintah Ibu untuk mengaji setengah hati. Keesokan harinya, Ku lihat di meja ruang tamu tergeletak sebuah buku berisi tulisan arab yang sangat bervariasi bentuknya. Lalu Ibu menghampiriku...dan mengatakan “Itu namanya buku Iqro’ Yu...”
Aku pun sangat tertarik pada buku itu. Kemudian keesokan harinya Aku pergi di temani Ibu  untuk mengaji....Uppss ini yang perdana. Kulihat “Ia”....siapa “Ia” ??? Ia adalah guru mengajiku. Aku biasa menyapanya dengan sebutan  “wawak”. Perasaan takut, deg-degkan...semuanya jadi satu. Aku pun duduk tepat di hadapannya dengan kaki bersila, Ku buka buku Iqro’ pemberian Ibu tepat pada halaman pertama....Aku sedikit mencuri-curi pandangan, ku lihat Ibu perlahan pergi meninggalkanku...hhhahh... mungkin Ibu tak ingin membuyarkan konsentrasiku.
Kita mulai ngajinya ya! “Ayo baca basmallah” ujarnya....Aku pun membaca Basmallah....dan Ia mulai mengajariku untuk mengenal Alif, Ba, Ta. Ayu, ikutin uwak ya ! Aku menganggukkan kepala. Alif, Ba, Ta....Ayo coba ulangi ! ujarnya. Aku pun mengulangi apa yang uwak itu katakan  “Alif, Ba, Ta...,Ujarku”. setelah itu dia mencoba mengenalkanku secara mendetail Alif, Ba, Ta itu. Coba perhatikan ya yu, “ini Alif, dia tegak lurus  dan kokoh dan  ini Ba, agak melengkung sepeti perahu, mempunyai  satu titik tepat di bawah badannya, nah yang ini Ta...sama seperti perahu namun, Ta memiliki titik dua tepat di atas badan perahunya”. Betapa bahagianya Aku, telah mengenal tiga huruf arab yang tadinya  sangat asing bagiku. Seiring waktupun Aku terus mengaji hingga akhirnya Aku bisa fasih membaca Alquran. Berawal dari Alif, Ba, Ta.....kini Aku dapat melantunkan kalam ilahi. Berawal dari Alif, Ba, Ta membuatku tertarik untuk mencari makna kalam ilahi. Berawal dari Alif, Ba, Ta....Aku menyadari betapa indahnya hidup dalam pentunjuk kalam ilahi.
Seiring pertambahan usia, tentu saja Aku merasa takjub dengan Alif, Ba, Ta itu. Berawal dari tiga huruf itu....Aku memperjelas identitas keislaman. Wah, kenapa Aku menyebutnya memperjelas identitas??? Ya, iyalah memperjelas identitas, secara kitab suci ane Alquran...bile tak bisa bace berarti ane bukan orang islam. Bukankah Alquran itu kitab suci umat islam....ye tak?  Ape isinya Alquran ??? Alquran itu berisi tentang firman-firman Allah Swt. Jelas ke?  Hhhhah hanya bermula dari Alif, Ba, Ta kini Aku menemukan banyak makna dari setiap Ayatnya. Ntah bagaimana  jadinya bila Aku bersikukuh mempertahankan Argumen untuk tak mau belajar mengaji.
Terimakasih wak, telah membimbing Ayu untuk belajar mengaji....semoga itu akan menjadi amal jariah....yang tak kunjung putus. Amin Ya  Allah....mungkin wak telah tiada dan kini hanya menyisakan sebuah nama. Namun Alif, Ba, Ta itu, akan selau terkenang...selamat jalan guru Alif, Ba, Ta Ku Semoga engkau tenang di sisiNya dan di tempatkan bersama kekasih Allah di jannahnya. Amin Yarabbal Alamin. L

Sabtu, 01 Maret 2014

TAM Pemberian Tenas Effendi



Tunjuk Ajar Melayu Pemberian Tenas Effendi

            Sabtu, 01 maret 2014 seusai mata kuliah pragmatik tepat pukul 15.10 Wib. Aku bergegas mencari sebuah buku yang menjadi objek penelitianku. Buku itu berjudul “Tunjuk Ajar Melayu” karya Tenas Effendi. Tentu saja Aku tak sedirian mencari buku tersebut. Aku ditemani oleh Hespi Depita, gadis manis yang menjadi teman baikku. Dengan motor bebek andalanku, Aku bersama hespi  menyusuri kota Pekanbaru ditengah pekatnya kabut asab yang melanda tanah Melayu.
            Aku pun mendatangi berbagai toko buku, dan penjelajahan terakhir.... langkah terhenti di toko buku Gramedia, sesampainya disana aku juga tak memperoleh buku tersebut. Kesimpulan yang kuperoleh dari berbagai penjual dan petugas toko buku, bahwa buku tersebut tak di perjual belikan. “Kalau buku yang Anda cari tak di jual, minta saja langsung ke pak Tenas”. Begitulah ungkapan salah seorang penjaga toko buku yang kudatanngi.
      Hhhuuh, Sejauh ini....keluar masuk toko buku, tak ada yang menyenangkan hatiku....kemanalah mesti Ku cari. Tentu saja Aku tak putus asa, kucari informasi keberadaan buku tersebut, tentunya di bantu juga dengan hespi sahabat Ku. Melalui seorang sahabat jugalah akhirnya Aku menginjakkan kaki tepat di depan rumah penulisnya. “Hhhah, ternyata ini rumah pak Tenas” gumamku dalam hati. Berapa tahun Aku bolak-balik Pandau tak sadar yang kulewati rumah seorang budayawan yang karyanya menjadi objek penelitianku”. Aku pun tampak sumringah, Ku pandang rumah pak Tenas dengan seksama....”Wah rumahnya kental sekali nuansa Melayu, ornamen dan  arsitekturnya”. Aku bersama Hespi berjalan menuju bagian belakang rumah pak Tenas. Ku lihat ada seorang wanita duduk tepat di pelataran pintu samping rumah pak Tenas. Aku pun bertanya pada Ibu tersebut “Permisi Bu, benar ini kediaman Pak Tenas? Saya Mahasiswa Uir, Mencari buku Tunjuk Ajar Melayu”. “Untuk apa dek?” tanya ibu itu. “Untuk objek penelitian Saya Bu” ujar saya. Tunggu sebentar ya! Bapaknya sedang mandi, duduklah dulu dek” ujar Ibu itu. Setelah menungggu beberapa menit, akhirnya pak Tenas berlalu di depan mata kami. Ibu tersebut pun menceritakan kepada pak Tenas maksud kedatangan kami, tanpa menunggu lama seorang asisten penjaga arsip buku Pak Tenas mengambil buku terrsebut di pustakanya dan memberikannya kepada pak Tenas. Aku dan Hespi saat itu sedang menunggu di luar halaman....biasalah moment istimewa tak boleh di lewatkan begitu saja. Mumpung lagi di rumah pak Tenas kami pun  foto-foto....jepret...jepreeet,  kapanlagi.com. hhihihi. Suasana rumah pak Tenas sangat indah, apalagi tatanan taman di beranda rumahnya....bagus sekali. Tiba-tiba datang asisten pak Tenas membawa buku Tunjuk Ajar Melayu itu. Asistennya masuk dan memberikan buku itu kepada Pak Tenas.....Tak berapa lama Pak Tenas muncul dari pintu depan, memegang buku tersebut. Kami pun tepat berdiri di depan pintunya,.....”Ini nak bukunya, Ambil saja karena buku ini tidak diperjual belikan”. Kami pun mengambil buku tersebut dari anak tangga pertama diteras rumah pak Tenas dan memandang pak Tenas dengan seksama. “Mulia sekalilah bapak ini, buku setebal Alquran itu, diberikan cuma-cuma kepadaku, apalagi  buku itu asli bukan fotokopi” gumanku dalam hati. Lalu Ku ambil buku itu “ terima kasih banyak pak”. “ Iya, Nak sama-sama” sahut pak Tenas. “Kami pamit pulang pak”, kami pun berlalu meninggalkan rumah dan pamit serta berterima kasih kepada asisten pak Tenas yang mengambilkan buku itu di pustaka milik pak Tenas. “Terima kasih pak, kami nak pulang” ujar kami. Bapak itu pun tampak tersenyum...”Iya nak” ujarnya.
            Wahhhhhh, dapat juga bukunya....bukan kepalang bahagiannya bisa bertemu face to face dengan seorang budayawan Riau yang sangat produktif dalam berkarya. Kalau Aku punya sayap rasanya mau terbang saat itu juga...hhhihi. Lantaran bahagia plus agak grogi Aku sampai lupa minta tanda tangan pak Tenas. Ya, itung-itung kenang-kenagan lah. Tapi ya sudahlah, yang penting bukunya kini berada di tangan. Terima kasih pak Tenas, semoga Allah membalasnya...dan semoga penelitian saya ini akan bermanfaat untuk khalayak.
Sekian guys, itu bagian dari memoar saya, cheees.....*_^