Minggu, 11 Mei 2014

KONSTRUKSI DAN KONSTITUEN



NAMA            : Gusti Ayu Anggraini
KELAS           : 6.C
NPM               : 116211757
TUGAS           : Sintaksis Lanjut Bahasa Indonesia
Dosen Pembimbing: Ermawati S, S.Pd., M.A.

KONSTRUKSI DAN KONSTITUEN
Contoh : Burung Merpati itu terbang tinggi


 

Keterangan:
1.      Kalimat tersebut memiliki 2 konstruksi, yaitu :
Burung Merpati itu, terbang tinggi
2.    Konstituennya ada 3 yaitu :
       Burung Merpati, terbang, tinggi

Minggu, 27 April 2014

Sintaksis Bahasa Indonesia



Sintaksis  Bahasa Indonesia
(Perbedaan Klausa dan Kalimat, Perbedaan Klausa bebas dan Klasa terikat)

A.  Perbedaan Klausa dan kalimat
Klausa menurut Ramlan, (2001:79) klausa sebagai satuan gramatik yang terdiri dari S, P baik disertai O, PEL, dan KET ataupun tidak. Sedangkan menurut Chaer, (2009:41) Klausa merupakan satuan sintaksis yang berada di atas satuan frase dan di bawah satuan kalimat, berupa runtunan kata-kata berkontruksi predikatif. Jadi penulis menyimpulkan bahwa klausa adalah satuan gramatik yang memiliki unsr inti yaitu S dan P.
Kalimat menurut Chaer, (2009:44) merupakan satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, serta disertai dengan intonasi final. Sedangkan menurut Ramlan, (2001:23 kalimat merupakan  satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun naik. Jadi penulis menyimpulkan bahwa kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh jeda panjang dan disertai nada naik turun yang biasanya berupa klausa.
Tabel berikut memuat contoh klausa dan kalimat
Klausa
Kalimat
1.      Kakak membaca
1.  Kakak membaca novel di kamar.
2.   kakak membaca novel
2.  Kakak membaca novel di kamar,
     sedangkan membaca komik di taman.



B.  Perbedaan Klausa Bebas dan Klausa Terikat
Klausa Bebas menurut Chaer, (2009:161) yaitu klausa yang memiliki fungsi-fungsi sintaksis yang lengkap. Selain itu klausa bebas apabila diberi intonasi final akan menjadi sebuah kalimat bebas, kalimat yang dapat berdiri sendiri dan tidak terikat dengan kalimat lain. Klausa Terikat menurut Chaer, (2009:162) bila pada tingkat kalimat, klausa terikat dapat juga menjadi sebuah kalimat, tetapi berupa kalimat terikat, yakni terikat dengan kalimat bebas lainnya.
Contoh :
“Sekarang di Riau sangat sukar mencari terubuk. (1). Jangankan telurnya, ikannya pun sukar diperoleh (2). Kalaupun ada harganya melambung selangit (3).  Makanya ada kecemasan masyarakat di sana bahwa treubuk yang spesifik itu akan punah (4).
Wacana tersebut dibangun oleh empat buah kalimat. Kalimat (1) adalah sebuah kalimat bebas, yang tanpa kehadiran kalimat lain dapat berdiri sendiri. Sedangkan kalimat (2), kalimat (3), dan kalimat (4) adalah kalimat terikat, yang terikat pada kalimat (1).

Jumat, 28 Maret 2014

PUISI...AKU & MAWAR





Aku  & Mawar

Ku ingin seperti mawar...
Tampil apa adanya, namun sangat mempesona
Ku ingin ingin seperti  mawar...
Anggun dengan merah kelopaknya
Ku ingin seperti mawar...
Batangnya keras lambang ketegasan
Ku ingin seperti mawar...
Memiliki  duri sebagai pelindung diri
Ku ingin seperti mawar
Kian bersemi ditaman
Bersama kumbang, pasangan sejati
`                                                                              
By : A_u

ANALISIS PUISI "DERAI-DERAI CEMARA"


Nama : Gusti Ayu Anggraini
NIM :116211757
Mata Kuliah : Semantik Bahasa Indonesia
Tugas : Analisis Gaya Bahasa Pada Puisi "Derai-derai Cemara" karya Chairul Anwar
 
Puisi Derai-derai Cemara karya Chairil Anwar
"Derai-derai cemara"
Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda-nunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Analisis Gaya Bahasa Pada Puisi Chairil Anwar  “Derai-derai Cemara”
Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran atau perasaan melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Dengan melihat gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang dalam menulis puisi, kita akan dapat melihat kepribadian, watak, dan kemampuan pengarang puisi tersebut.
Setiap  pengarang biasanya mempunyai gaya bahasa  sendiri. Hal ini sesuai dengan sifat dan kegemaran masing-masing pengarang. Pengarang mengguanakan gaya bahasa yang bermacam-macam untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Pemilihan gaya bahasa bergantung pada situasi dan isi pesan yang akan disapaikan kepada pembacanya.
Analisis gaya bahasa pada bait puisi “Derai-derai Cmara”
Pada bait puisi “Cemara menderai sampai jauh”, menunjukan bahwa terdapat gaya bahasa simbolik yang melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud. Dalam kalimat ini menyatakan jelas bahwa penulislah yang mengalami gejolak batik pada dirinya. Namun, apabila bait tersebut digabungkan dengan bait selanjutnya “terasa hari akan jadi malam”, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat majas satire yang merupakan gaya bahasa sejenis ironi yang mengandung kritik atas kelemahan manusia agar terjadi kebaikan dan tidak jarang satire muncul dalam bentuk puisi yang mengandung kegetiran tapi ada kesadaran untuk berbenah diri.
................
Cemara menderai sampai jauh
Tersa hari akan jadi malam